Jason Iskandar Ungkap Suka Duka Jadi Sineas, Ini Ceritanya

Source: Instagram.com/Jasoniskandar
ADMIN
TUESDAY 21.09.2021

“Lebih banyak dapat penolakan dibanding approval”

Jason Iskandar merupakan salah satu figur muda di dunia perfilman Indonesia. Menekuni dunia film, Jason menganggap film dan pernak-perniknya merupakan hal yang membuatnya antusias dan selalu tidak sabar untuk dieksplorasi. Perilaku manusia sehari-hari ialah objek bagi pria berusia 30 tahun ini untuk berkarya.

Kali ini Jason berkesempatan menjadi salah satu pembicara di Sundance Film Festival: Asia 2021 yang diselenggarakan XRM Media bersama IDN Media. Untuk lebih mengenal dirinya dan mengetahui dunia filmnya, yuk simak obrolan ini.

1. Inovasi film pendek Indonesia berformat vertikal di TikTok X&Y

image
Source: Instagram.com/jasoniskandar

Sebelum membuat membuat film pendek dengan format vertikal, Jason sebenarnya sudah lama mempunyai ide akan hal itu. Ia pun banyak bertanya-tanya, ‘Layar handphone kan vertikal, tapi kok kalau nonton masih di-rotate?’.

Hingga kemudian muncul media sosial yang mempunyai fitur video vertikal, Jason pun semakin ingin mencoba dan ia menganggap hal itu begitu potensial. Ditambah teman-teman komunitasnya mulai ramai membahas video vertikal. TikTok pun muncul dan ia melihat hal itu makin menarik.

“Soal TikTok juga, kebetulan sebelum X&Y, sudah pernah ada hubungan sama TikTok terkait proyek lain. Ketika ngobrol lagi sama TikTok, ternyata mereka punya ide yang sama. Akhirnya, dibuat lah film pendek X&Y ini. Bersama TikTok, kita berusaha mencari tahu karakteristik pengguna seperti apa, supaya film yang dibuat cocok dengan pasar. Jadi, ada tukar feedback bareng TikTok,” tutur Jason.

“Kalau sebagai yang pertama, sebenarnya sudah ada, kok, kreator lain yang membuat vertikal. Kebetulan saja, X&Y ini yang dipromosikan secara masif,” tambah Jason.

2. Jason terjun ke industri film sejak 2011 melalui Studio Antelope ketika berkuliah di UGM

image
Source: Instagram.com/jasoniskandar

Jason sudah aktif membuat film sejak SMA. Dari keaktifannya itu, ia juga bertanya pada dirinya apakah akan melanjutkan pendidikan ke sekolah film atau tidak. Ia pun sempat mengecek sekolah film di Malaysia. Ketertarikan Jason akan film karena ia senang dan menjadi semacam rekreasi baginya. Hingga ia pun memutuskan untuk tidak mengambil sekolah film.

Jason pun melihat banyak melihat tutorial dan artikel di internet yang dapat menjadi media belajar saat itu. Ia juga bertanya kepada teman-temannya seputar film.

“Kalau soal UGM dan sosiologi itu karena gue kan enggak sekolah film formal. Gue butuh sesuatu yang mungkin berguna buat storytelling, at least. Gue pilih sosiologi karena itu salah satu ilmu tertua dan cukup general. Dalam arti bisa belajar tentang banyak hal, seperti dikasih kacamata perspektif dari sosiologi itu. Selain UGM-nya, pilihan ini ada karena semenjak SMA itu gue tahu kalau Jogja itu sangat menyenangkanlah untuk filmmaker. Gue tahu beberapa pembuat film dari Jogja dan cukup nge-fans dengan karya-karyanya sejak SMA,” tutur Jason.

Terkait Studio Antelope, sebenarnya Jason membentuknya karena iseng. Studio Antelope sendiri adalah nama kelompok bersama teman-temannya. Ia memberi nama itu karena saat mengikuti festival suka ditanya akan nama kelompoknya.

“Setelah lulus pada 2014, gue serius jadikan perusahaan. Ya, mulai mengambil kerjaan, tapi di saat yang sama tetap bikin film pendek. Akhirnya, sampai sekarang. Jadi sebenarnya, enggak banting-banting setir banget, sih, karena semuanya bagian dari rencana,” tutur Jason.

3. Pesan Jason buat sineas muda lainnya yang merasa harus banting setir dari jalan hidupnya
image
Source: Instagram.com/jasoniskandar

Jason pun berpesan bagi sineas muda yang merasa harus banting setir dari jalan hidupnya. Ia mengatakan bahwa mereka harus memastikan itu passion dan betul-betul panggilan jiwanya. Jason pun mendefinisikannya seperti anak kecil yang bergairah dengan mainan baru. Serupa seperti yang ia jalani saat membuat film.

“Nah, caranya gimana (untuk tahu)? Ya, dilakukan, dikerjain, dicoba buat mungkin satu karya terus lo lihat. ‘Apakah itu benar lo suka sama yang lo kerjakan, atau, jangan-jangan ternyata lo enggak terlalu suka gitu?’ Kalau suka, kemudian coba lagi di karya berikutnya, ‘Apakah lo masih merasakan energi yang sama?’,” tutur Jason.

4. Suka duka Jason berkarier di dunia perfilman hidupnya
image
Source: Instagram.com/jasoniskandar

Penolakan bagi Jason adalah hal yang paling terasa di dunia yang ia geluti saat ini. Dari hal itu, menurutnya, orang akan menyadari itu sebenarnya bagian dari proses bahwa akan lebih banyak dapat penolakan dibandingkan approval. Itu pun tidak terjadi hanya di dunia film, tapi di semua bidang. Namun, bagi Jason, apa pun yang dia rasakan, ia merasa itu bagian dari pekerjaan, bagian dari prosesnya. Dengan begitu, Ia tidak kan terlalu memikirkan itu.

“Sukanya, of course banyak banget, sih. Cuma, kalau gue simpulkan dari semua itu, ya, kayak tadi gue bilang, ‘Berasa jadi anak kecil setiap saat.’ Setiap proyek yang gue kerjakan kayak punya challenge yang baru, punya cerita yang baru. Punya banyak hal baru yang gak lo kulik di sebelumnya,” tutur Jason.

Dari hal tersebut, Jason mengatakan bahwa ia bisa banyak belajar tentang diri dan itu menjadi satu hal menyenangkan. Sebab, setiap berkarya bisa melihat karakter dan mencoba becermin dengan pengalaman sendiri. Selain itu, ia menjadi bisa membandingkan dirinya dengan karakter yang ia ciptakan bahwa ternyata dia tidak semenyedihkan itu dan hidupnya masih menyenangkan.

5. Pentingnya melihat perkembangan film, khususnya di Indonesia, bagi Jason Iskandar
image
Source: Instagram.com/jasoniskandar

Bagi Jason, penting melihat manusia dari periode tahun kesekian dari film. Dengan begitu, pembuat film maupun masyarakat pada umumnya bisa membandingkannya dengan manusia saat ini untuk melihat dinamika yang berbeda dari periode tersebut.

Jason mencontohkan bahwa saat ia menonton film Tiga Dara yang direstorasi, ia kaget dengan film tahun 50-an (1957)  tersebut bisa selevel dan sebagus itu baik dari kualitas teknis dan penceritaan. Untuk itu, menurutnya, kita bisa melampaui standar yang dibuat film tahun klasik itu. 

“Gue pernah dapat quotes bagus dari [aktor] Yayuk Unru. Dia bilang ini dari perspektif pemain, ya. ‘Artis harus bekerja saat dia nganggur, tetapi harus rekreasi saat dia bekerja’. Ketika lo lagi enggak ada kerjaan, ya, itu saatnya lo bekerja. Mengumpulkan referensi, menonton, terus mengamati manusia. Nah, pas kita lagi udah ngerjain, ya, saatnya kita memanfaatkan apa yang kita sudah tonton,” tutur Jason.

6. Jason ingin menggali genre ini untuk proyek ke depannya
image
Source: Instagram.com/jasoniskandar

Jason begitu menyukai genre drama karena selalu membahas manusia dan karakter serta koneksi antara satu sama lain. Seperti yang manusia lakukan setiap hari selalu mencari keterhubungan.

Nah, terkait itu, Jason sendiri ingin sekali membuat genre seperti film Dan Kembali Bermimpi. Maksudnya, memikirkan sebuah tempat di masa depan atau di sebuah universe yang mungkin bukan universe yang kita lihat sehari-hari. Satu sisi itu terasa familier dengan kita.

“Mungkin di film panjang pertama gue ini, Akhirat – A Love Story sudah bisa sedikit menumpahkan itu, ya, karena kan genrenya fantasi. Bahas akhirat, tapi dari sudut pandang fantasi. Kita membayangkan sebuah tempat yang familiar dengan kita, tapi di satu sisi sama kita sadar bahwa ini belum pernah kita lihat. Memang dystopian thriller, genre yang pengen banget dibikin,” tutur Jason.

7. Menurut Jason, sineas muda Indonesia dapat mengejar hal ini untuk memanfaatkan Sundance Film Festival Indonesia
image
indiewire.com

Soal Sundance Film Festival yang hadir di Indonesia, Jason yakin setiap festival punya karakteristiknya sendiri. Walaupun dibawa ke Asia, menurutnya, tim programmer Sundance Asia ini sudah menjaga karakteristik atau identitas dengan film-film pilihan di dalam finalis ini. Nah, dari situ teman-teman sineas muda bisa menonton dan baca karakteristik di film-film tersebut.

“Panel-panelnya juga seru. Gue melihat beberapa nama besar yang dikumpulkan menjadi satu di Sundance Asia ini. Mulai dari bahasan tentang dampak festival film dan karier sineas sampai streaming platform di Asia Tenggara. Terus, gue dan Salman Aristo dari TikTok juga akan mengisi panel tentang vertical cinema. Itu, sih, yang mungkin bisa harus dimanfaatkan oleh teman-teman,” tutur Jason.

8. Pesan Jason bagi sineas muda yang karyanya dibajak
image
Source: Instagram.com/jasoniskandar

Jason mengomentari sineas yang karyanya dibajak. Menurutnya, sineas itu harus menyadari bahwa ternyata karyanya mempunyai potensi. Hal ini dapat dilihat bahwa ada orang lain yang melihat potensi karya itu dan mencoba memanfaatkannya. Berarti Jason mengatakan, sineas itu harus sadar bahwa ternyata karyanya potensial karena orang lain sudah sadar.

“Selanjutnya, lo bisa lakukan banyak hal. Lo bisa mengambil langkah yang paling simpel, yaitu menghubungi orang yang mengunggah film itu dan mengirimkan take down notice, sih. Kalau tidak diturunkan juga, bisa melaporkan itu. Gue yakin kalau streaming platform, seperti YouTube sudah punya protokol yang cukup baik, lah, untuk menanggapi hal-hal seperti ini,” tutur Jason.

Jason pun mencontohkan langkah lain yang dapat sineas lakukan ketika karyanya dibajak. Seperti yang dilakukan Visinema saat Keluarga Cemara dibajak, melakukan langkah hukum. Itu juga salah satu yang bisa dilakukan. Untuk kasus film pendek sendiri, Jason mengatakan bahwa itu juga salah satu hal sederhana yang bisa ditempuh. Selain itu, sineas yang karyanya dibajak dapat mengirimkan take down notice atau melaporkan (report content) video tersebut.

Nah, buat kamu yang ingin mendengar cerita lebih banyak dari Jason Iskandar soal dunia perfilman, jangan lupa cek jadwal di Sundance Film Festival: Asia 2021, ya!

Dikutip dari IDN Times/Gregorius Amadeo

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *