Joko Anwar: Kita Harus Tingkatkan Benchmark Film Indonesia

ADMIN
WEDNESDAY 15.09.2021

Hal ini agar kita dapat meningkatkan kualitas film Indonesia

Kesuksesan Joko Anwar kini, telah ia bangun dari mimpinya sejak kecil dan aktif di perfilman sejak 2013. Ia dikenal di Tanah Air hingga hampir di seluruh dunia lewat karya-karyanya.

Kesuksesan Perempuan Tanah Jahanam (2019) masuk ke festival fim bergengsi dunia Sundance Film Festival menjadi salah satu tonggak pencapaian Joko Anwar. Lalu apalagi dan bagaimana perjalanan Joko Anwar hingga bisa seperti saat ini? Berikut ulasannya.

1. Dari mimpi Joko Anwar menjadi sineas hingga masuk ke dunia film
image
Source: Instagram.com/jokoanwar

Joko Anwar mengatakan sejak kecil ia berkeinginan menjadi seorang sineas. Setelah lulus dan memulai karier sebagai wartawan, ia pun punya kesempatan untuk bertemu beberapa orang film untuk mewawancarainya.

“Saya dapat kesempatan untuk interview Nia Dinata, Sekar Ayu Asmara, dan Afi Shamara. Kemudian dari situ akhirnya membangun networking dan bisa masuk dunia film dengan cara jadi crew, asisten sutradara, penulis skenario untuk film Arisan!, dan jadi sutradara di film Janji Joni,” tutur Joko Anwar.

2. Sosok penting bagi karier Joko Anwar sebagai sineas
image
Source: Instagram.com/jokoanwar

Ada empat orang sosok penting bagi Joko Anwar, yakni Nia Dinata, Afi Shamara (Produser Arisan! dan Janji Joni), Sekar Ayu Asmara, dan Jajang C Noer. Dari keempat nama tersebut, Nia Dinata ialah sosok paling penting baginya.

“Nia Dinata tentunya sosok yang penting banget ya bagi saya. Beliau sebagai pembuka jalan, pemberi kesempatan saya bisa masuk ke dunia film, dan mentor juga. Teh Nia juga yang ngajarin beberapa aspek dalam film making,” tutur Joko Anwar.

Joko Anwar mengatakan sebenarnya beberapa orang tadi membantunya di awal-awal industri film. Seperti saat pertama kali bekerja di perfilman, ia menjadi astrada Sekar Ayu Asmara di film Biola Tak Berdawai. Kemudian Jajang C Noer, yang berjasa juga di karier Joko Anwar.

3. Film-film ini membekas di ingatan Joko Anwar sejak kecil
image
Source: Instagram.com/Jokoanwar

Sebetulnya banyak film yang membekas dalam ingatan Joko Anwar sejak kecil. Namun, beberapa film ia anggap mengantarkannya menjadi filmmaker, di antaranya Pengabdi Setan (1981) dan Legend of Eight Samurai (1983) yang nama sutradaranya Kinji Fukasaku.

“Itu film yang sangat memorable karena waktu kecil nonton film itu, kaget gitu. Itu film fantasi tapi banyak sekali elemen-elemen yang provokatif. Jadi, secara visual juga luar biasa, dari segi tema juga pas nonton ketika kecil sangat ter-provoke dengan ceritanya yang sangat mature atau dewasa,” tutur Joko Anwar.

4. Sering menerima penolakan, Joko Anwar bangkit dan pantang menyerah 
image
Source: Antara.com

Joko Anwar lahir dari keluarga yang tidak berkecukupan. Karena itulah sikap pantang menyerah sudah ada di dirinya sejak kecil. Jika ingin mendapatkan sesuatu yang diinginkan, ia harus menabung dan berusaha sendiri.

“Misalnya kalau zaman sekarang kan ada Google, ya. Orang mau cari tau tentang apa saja bisa liat di Google. Tapi kalau zaman dulu harus cari sumber tertulis ya. Dulu tuh ada buku ensiklopedia, namanya buku pintar dan agak mahal,” cerita Joko Anwar.

Satu waktu Joko Anwar kecil kepingin banget buku itu. Ia pun harus menabung beberapa bulan. Jadi, menurutnya, mentalitas seperti itu yang tidak gampang menyerah, resiliensi, terbawa kebiasaan itu hingga kini.

“Jadi, walaupun lulus kuliah, ngelamar ke beberapa production house gak ada yang keterima karena latar belakang saya bukan di film dan gak ada portofolio juga di film terus ditolak sana-sini, tapi karena terbiasa gigih dari kecil untuk mendapatkan apa yang saya inginkan. Jadi, mencari jalan lain, jadi jalannya zigzag,” tutur Joko Anwar.

5. Joko Anwar merencanakan matang dan memberikan 100 persen untuk filmnya
image
Source: Instagram.com/jokoanwar

Dari film satu ke film berikutnya, Joko Anwar selalu menyuguhkan film yang berbeda. Ia pun tak merasa khawatir setiap merilis film karena dapat mengatasi hal itu dengan menceritakannya dan merencanakannya sangat matang ketika ingin membuat film.

“Mulai dari persiapan sampai pilihan-pilihan kreatifnya. Jadi, saya rasa segala sesuatu yang sudah kita kerjakan dengan 100 persen dari mulai effort, tenaga, dan akal hasilnya itu sudah dikembalikan ke penonton saja,” Joko Anwar.

Joko Anwar mengatakan ia tidak bisa mengontrol bagaimana nanti orang menerima filmnya. Namun, ketika sudah mengerjakannya 100 persen, ia merasa sudah melakukan yang terbaik.

Nervous tuh kalau misalnya mengerjakan sesuatu gak 100 persen terus kaya ‘aduh nervous ini benar apa nggak ya’ tapi kalau misalnya sudah 100 persen, ya kita merasa itu sudah yang terbaik yang kita berikan. Penerimaan orang, baik secara penilaian atau pendapatan film tersebut, ya itu sudah hal lain yang gak bisa kita kontrol,” tutur Joko Anwar.

6. Perempuan Tanah Jahanam masuk Sundance Film Festival, ini saran Joko Anwar bagi perfilman Indonesia
image
Source: Instagram.com/jokoanwar

Setiap tahun ada ratusan bahkan ribuan film yang ingin masuk ke lima festival film besar, yakni Sundance, Cannes, Venice, Berlin, dan Toronto. Untuk dapat bersaing dengan mereka, Joko Anwar mengatakan perfilman Indonesia harus dapat meningkatkan kualitasnya dengan sangat baik.

“Jadi, perfilman Indonesia harus ditingkatkan benchmark-nya, gak bisa dengan cara lain. Kita mencari jalan supaya bisa diterima di sana, kalau kita gak punya film dengan kualitas yang baik karena saingannya dengan seluruh dunia. Caranya dengan meningkatkan kualitas film itu,” tutur Joko Anwar.

7. Tanggapan Joko Anwar terkait Sundance Film Festival Indonesia dan pengaruhnya bagi RI
image
Source: Instagram.com/jokoanwar

Sundance Film Festival merupakan salah satu festival terbesar di dunia. Ketika event festival itu digelar di Indonesia, Joko Anwar mengatakan, tentunya ini menunjukkan bahwa Sundance memberikan perhatian pada perfilman Indonesia.

“Berarti, perfilman Indonesia sudah diperhitungkan di dunia. Kemudian, manfaatnya dan impact-nya ke perfilman Indonesia, mudah-mudahan dengan adanya Sundance Film Festival Indonesia atau Asia ini, para sineas Indonesia, kita harus meningkatkan benchmark film kita,” tutur Joko Anwar.

Untuk itu, Joko Anwar mengatakan bahwa kita tidak bisa berpikir bahwa bikin film hanya untuk publik Indonesia karena sekarang membuat film saingannya dari seluruh dunia. Film-film dari mana pun sekarang bisa masuk melalui streaming platform dengan sangat gampang.

“Penonton kita juga dunia, bukan hanya Indonesia. Jadi, mau gak mau karena saingannya dari seluruh dunia kita harus meningkatkan benchmark setiap saat. Harus jadi excellent di antara negara-negara lain karena mereka semakin lama semakin maju,” tutur Joko Anwar.

Jika hal itu tidak dilakukan, jelas Joko Anwar, kita gak bisa jadi penghasil film yang bisa dinikmati oleh publik dunia sehingga hanya dapat dinikmati di Indonesia. Ia pun menyayangkan kalau seperti itu adanya.

8. Joko Anwar mungkin akan menggarap genre film ini tahun depan
image
Source: Instagram.com/jokoanwar

Joko Anwar mengatakan bahwa genre science fiction belum pernah ia garap. Untuk itu, ia pun berkeinginan menggarap film sci-fi, tapi kemungkinan tahun depan.

“Horor sci-fi karena belum pernah bikin sci-fi walaupun saya senang banget sama sci-fi,” tutur Joko Anwar.

9. Pesan dan pandangan Joko Anwar untuk perfilman indonesia ke depan
image
Source: Instagram.com/jokoanwar

Menurut Joko Anwar, perfilman Indonesia sekarang berada di persimpangan jalan dan sangat tergantung oleh para sineasnya. Kalau sineasnya mau meningkatkan kualitas secara teknis maupun estetika, Ia mengatakan bahwa Indonesia bisa menjadi pemain yang besar di peta perfilman dunia.

“Kalau kita masih malas-malasan bikin film, asal dapat uang aja, tapi gak mempedulikan kualitasnya, ya lama-kelamaan kita akan ditinggalkan. Bukan hanya kita gak berhasil mencari penonton di publik dunia, tapi bahkan penonton film lokal akan meninggalkan kita karena mereka punya banyak alternatif film yang lebih baik,” tutur Joko Anwar.

Joko Anwar pun mencontohkan, misalnya kalau para sineas Indonesia gak mau meningkatkan benchmark, kita jadi ditinggalkan sama semua orang. Sebaliknya, ia optimistis kalau kita mau meningkatkan benchmark, mencurahkan effort, tenaga, dan akal sebesar-besarnya pada film yang dibuat, Indonesia akan bisa jadi pemain yang besar di peta perfilman dunia.

Untuk diketahui, beberapa film sudah direncanakan Joko Anwar untuk tayang hingga 2025. Untuk itu, mari kita dukung Joko Anwar agar dapat terus berkarya!

Dikutip dari IDN Times/Rafifa Nur Shabira

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *