Kamu Perlu Tahu 5 Pesan dari Kisah Perempuan dan Film Ini

ADMIN
TUESDAY 28.09.2021

Keberadaan perempuan di industri film bisa semakin inklusif

Sundance Film Festival: Asia 2021 telah menggelar diskusi panel daring mengenai perempuan dan industri film pada Kamis (23/09/2021). Menghadirkan Nia Dinata, Susanti Dewi, Gina S. Noer, Sue Surley, dan Amanda Salazar, diskusi panel yang berlangsung selama satu setengah jam ini membahas akses perempuan hingga dampak pandemik bagi industri film.

Beberapa pokok ini dapat diambil dari pembahasan dalam panel tersebut. Berikut pesan penting dari panel “Women in Film Industry” bersama lima pembicara ini.

1. Peran perempuan menjanjikan, meski persentasenya masih kecil
image
potret Gina S. Noer (instagram.com/ginasnoer)

Terdapat 16 persen 100 film terlaris 2020 yang disutradarai perempuan berdasarkan pernyataan 23rd Annual Celluloid Ceiling Report. Sue Turley, Wakil Presiden Senior untuk pengembangan, produksi, dan strategi kerja sama XRM Media menyambut baik kenaikan data tersebut. Sue mengatakan bahwa keberadaan sutradara perempuan juga berpengaruh untuk membukakan akses bagi sineas perempuan lainnya.

“Tanpa sosok-sosok perempuan tersebut, mungkin perkembangan pembuat film perempuan tidak bisa seperti ini sekarang,” jelas Sue.

Menanggapi hal itu, Gina S Noer mengatakan bahwa dirinya terpengaruh sosok Nia Dinata dan Mira Lesmana. Keberadaan sineas perempuan senior di Indonesia tersebut berperan membukakan jalan bagi Gina untuk bisa semakin menyelami dunia film.

2. Pendanaan untuk mendukung film perempuan begitu penting
image
cuplikan panel diskusi daring “Women in Film Industry” (instagram.com/sundanceffasia)

Meski persentase tadi kecil, perlahan hal itu bisa memperbaiki masalah akses perempuan berkarya dan bereksplorasi dalam industri film perlahan bisa diperbaiki. Adapun permasalahan yang sering ditemui memang ada, terutama pendanaan. Kepala Program dan Akuisisi Argo, Amanda Salazar, mengatakan kesempatan di lapangan tidak bisa menampung banyaknya perempuan yang mau terjun ke industri ini.

“[Perempuan] yang mau terjun ke industri film banyak. Namun, kembali lagi ke pendanaan. Film [representatif perspektif perempuan] susah untuk mendapat dana,” ujar Amanda.

Sutradara dan produser film, Nia Dinata juga mengatakan hal senada. Menurutnya, pendanaan dan penanam modal untuk penceritaan perempuan masih sedikit. Selain masalah pendanaan, Gina S. Noer juga menambahkan fokus lain.

“Sebelum funding, ada hal yang lebih penting, yaitu pendidikan. Perempuan hidup paralel, masih banyak yang dimarginalkan. Kebetulan masalah ini kemarin diangkat oleh Yuni yang menang penghargaan di Toronto International Film Festival, TIFF,” jelas Gina.

3. Tentang eksploitasi penonton perempuan
image
ilustrasi menonton film (shutterstock)

Gina mempunyai pengalaman bekerja di salah satu rumah produksi. Ia menceritakan bahwa rumah produksi tersebut terbiasa mengangkat kisah yang mengeksploitasi penonton perempuan. Kisahnya menggambarkan perempuan dengan dramatis sebagai sosok yang selalu kalut. Cerita yang diberikan tidak eksploratif terhadap representasi kehidupan perempuan.

Terkait hal itu, Nia juga menambahkan kalau sebuah film hadir bukan hanya atas keinginan penonton, melainkan juga sosok-sosok di balik film punya andil besar.

“Jangan hanya lihat siapa pemainnya, siapa sutradaranya. Masih ada produser, editor, dan lainnya yang berpengaruh untuk mengatur penceritaan. Semua bagian ekosistem ini punya andil bagaimana perempuan digambarkan pada film,” tutur Nia Dinata.

4. Memperbaiki akses perempuan masuk industri film
image
Susanti Dewi, produser (instagram.com/susantidewi)

Supaya bisa memulai untuk membuat ekosistem kerja yang baik bagi perempuan, Kepala IDN Pictures, Susanti Dewi mengatakan dirinya selalu mengutamakan akses keamanan bagi seluruh kru perempuan yang bekerja dengannya. Bukan cuma itu, masalah akses bagi perempuan perlu diutamakan. Amanda mengatakan bahwa penting memiliki lingkungan kerja yang bisa memberi ruang keberagaman. 

“Jadi, memberikan kesempatan [bagi perempuan] untuk mencoba. Hal ini supaya hadir akses untuk keberagaman di industri,” jelas Amanda.

Membawa semangat memperluas akses, Nia bercerita tentang upayanya membentuk yayasan pendidikan film, Kalyana Shira Foundation, dengan membentuk kelas untuk mengedukasi sineas muda yang didominasi 70 persen peserta perempuan sejak 2009. Kelas tersebut berisi materi edukasi mengenai film, mulai dari cara membuat film, kenalan lingkungan kerja, dan memahami kontrak kerja.

“Hal utama yang diajarkan di sini adalah membuat film pendek. Mereka nantinya bisa membuat film pendek di daerahnya masing-masing. Film pendek juga baik untuk memulai langkah awal,” ujar Nia.

5. Melihat kehadiran layanan OTT dan berkembang bersama teknologi
image
ilustrasi menyaksikan Netflix di laptop (pixabay.com/Jade87)

Pola penonton menikmati film berubah karena pandemik. Karena pandemik Nia pun mengakui dirinya menjadi adaptif untuk menikmati film. Dari semula hanya bisa di bioskop, sekarang ia terbiasa menonton di handphone. Terkait hal ini, Sue mencatat ada dua kebiasaan baru yang dilakukan penonton untuk menikmati film.

“Satu, penonton sekarang memiliki attention span (rentang perhatian) yang beragam, karena pilihannya juga banyak di luar sana. Selanjutnya, cenderung lebih menikmati konten episodik. Model seperti ini membuat akselerasi penonton untuk membicarakan tayangan ini terus,” tutur Sue.

Pandemik pun memperbanyak jumlah pelaku film pendek dan penonton. Amanda mengatakan selama pandemik pihaknya banyak sekali mengurasi film pendek. Hal ini dipicu juga karena kita dihadapkan kondisi untuk harus berkembang dengan teknologi. Apalagi, sekarang pembuat film bisa menggarap filmnya hanya dengan smartphone.

Nia pun menyambut senang hal itu karena bisa memahami semakin banyak perspektif yang bisa ditonton.

“Pandemik membuka banyak peluang mendapat cerita baru. Terlebih, mengakses karya multibahasa,” jelas Nia.

Berikut beberapa poin penting dari panel diskusi dengan tema perempuan dan industri film. Pesan-pesan tersebut diharapkan mampu membuat perubahan yang lebih baik bagi keberadaan perempuan agar industri film bisa semakin inklusif.

Dikutip dari IDN Times/Gregorius Amadeo

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *