Pendapat Angga Dwimas Sasongko Soal Pembajakan Film Indonesia

ADMIN
THURSDAY 30.09.2021

“Tidak bisa menyalahkan masyarakat karena ada akses pembajakan”

Angga Dwimas Sasongko memulai kariernya sebagai sutradara Foto, Kotak dan Jendela pada 2006. Di film itu ia turut menjadi produser dan penulis naskah.

Setiap karya Angga mempunyai cerita masing-masing baginya, yang selalu berangkat dari kegelisahan dan passion-nya terhadap sesuatu. Belum lama ini IDN Times berkesempatan mewawancarai pria berusia 36 tahun ini. Yuk simak cerita Angga!

1. Perjalanan Angga ke industri perfilman

image
Source: instagram.com/anggasasongko

Angga sudah membuat film sejak SMA. Menurutnya, hal itu yang membuatnya ingin menjadi sineas. Total hampir 16 tahun Angga menggeluti dunia sutradara. 

“Saya jadi sutradara udah hampir 16 tahun. Saya bikin film pendek dari SMA, mungkin itu yang bikin saya ingin jadi seorang sineas.”

2. Sosok penting bagi karier Angga sebagai sineas

image
Source: Instagram.com/anggasasongko

Angga mengatakan bahwa ia bertanggung jawab terhadap kariernya sendiri. Terkait hal itu, banyak banget orang atau sosok penting baginya. Namun, untuk yang paling penting menurutnya tidak ada. 

I do it myself, I build my own company, I produce my own film. Jadi, ya kalo mau dibilang sukses, saya merasa belum sukses, tapi kalau orang lihat saya sudah sukses karena siapa, ya karena diri saya sendiri,” tutur Angga.

3. Suka duka Angga Sasongko menjadi sineas
image
Source: Instagram.com/anggasasongko

Bisa bertemu dengan banyak orang ialah hal yang menarik bagi Angga dalam pekerjaannya. Dari hal itu, ia bisa mempunyai keistimewaan bisa bekerja sama dengan banyak orang dan mendengarkan banyak cerita mereka dari berbagai tempat. Hal itu pun menjadi inspirasinya dalam membuat filmnya, seperti Cahaya dari Timur (2014), Surat dari Praha (2016), dan Filosofi Kopi (2015).

“Semuanya berangkat bukan dari diri saya, tapi dari berangkat dari apa yang saya temukan. It’s a privilege to know about their stories. Kemudian, tumbuh sebagai manusia juga lewat dari cerita-cerita itu. Gak cuma sebagai seorang profesional, tapi juga sebagai seorang manusia,” tutur Angga.

4. Karya yang berkesan bagi Angga Sasongko
image
Source: Instagram.com/anggasasongko

Menurut angga, sulit jika ditanya soal karya yang berkesan baginya, Sebab ia tidak pernah membuat sesuatu yang begitu saja. Semua karya baginya punya cerita masing-masing dan semuanya spesial serta punya kesan dan menarik.

“Setiap saya bikin film, saya punya hal-hal yang saya checklist bahwa film ini penting buat saya kerjakan. Jadi gak ada yang lebih, gak ada yang kurang bahwa setiap film punya kesannya masing-masing. Cahaya dari Timur punya kesannya, Surat dari Praha punya kesannya, Bukaan 8 punya kesannya, bahkan saya bikin film pendek Konfabulasi ada kesannya. Jadi, semua film saya spesial buat saya,” tutur Angga.

5. Angga menyikapi kritik dan apakah itu memengaruhi karyanya?
image
Source: Instagram.com/anggasasongko

Anggak sendiri mengaku gak pernah memikirkan omongan orang lain. Menurutnya yang perlu pikirkan adalah kritik film. Berbeda dengan ulasan atau respons yang dikatakan netizen. Angga mengatakan kritikus filmlah yang punya kapasitas untuk mengkritik karya.

Baginya kalau review atau ungkapan respons netizen terhadap apa yang dia tonton dan apa pun yang dia dapatkan dan diutarakan di media sosial adalah haknya.

“Selama mereka menikmati film saya secara legal, itu saja. Kalau sudah menikmati film saya secara ilegal ya itu persoalan. Tapi kalau misalnya mereka menikmati secara legal, mereka konsumen, mereka penonton, mereka punya hak untuk komentar apa pun,” tutur Angga.

Komentar dari netizen pun tak memengaruhi Angga berkarya. Ia mengatakan bahwa ia berkarya untuk dirinya sendiri dulu, baru untuk penonton. Maksudnya bahwa ia membuat produk, atau film sebaik-sebaiknya supaya penonton ketika masuk ke bioskop tentunya dengan apa yang sudah mereka korbankan, mereka tidak kecewa. Berkaitan dengan itu, karya Angga selalu berangkat dari kegelisahan, rasa penasaran, dan passion-nya terhadap sesuatu. Terkait hal itu, Ke depan pun kemungkinan Angga berencana membuat film musical.

“Hari ini saya lagi bikin film Mencuri Raden Saleh, ya itu berangkat dari kegelisahan saya, dari passion saya terhadap seni, rupa. Kegelisahan saya terhadap bagaimana hari ini most powerful people itu selalu berusaha memanfaatkan atau mengambil benefit besar dari mereka yang powerless. Selalu berangkat dari situ, gak berangkat dari omongan orang,” tutur Angga.

6. Pendapat Angga soal karya sineas yang dibajak
image
Source: Instagram.com/anggasasongko

Menurut angga, begitu karya kita dibajak, kita ikhlaskan saja karena hal itu gak bisa diapa-apakan lagi. Ia sendiri lelah menghadapi hal itu. Angga mengatakan bahwa Indonesia memang tidak punya keseriusan terhadap pembajakan. Dengan begitu ketika karya kita dibajak, ia lebih memilih untuk mengiklaskan saja karena capek.

“Sekarang contohnya platform-platform yang besar, yang punya subscribers besar, seperti Telegram dan TikTok, itukan juga bagian dari termasuk dalam lingkaran pembajakan ini. Film Indonesia banyak dibajak di Telegram dan TikTok. Bahkan TikTok dan Telegram tidak melakukan upaya apa pun, tidak ada compliance dari pihak mereka, tidak ada usaha untuk bagaimana memastikan atau paling nggak ikut menjaga platformnya tuh diisi oleh konten-konten yang legal, ini kan penting, ya. Tapi ya memang negaranya gak peduli. Akhirnya platform-platform besarnya yang cari market di Indonesia juga jadi gak peduli.

Atasnya harus diperbaiki. Kalo dari akarnya, berarti bottom-nya itu market. ‘Kalau ada yang gratis ngapain gue harus bayar’. Itukan hukum ekonomi paling dasar. Jadi yang perlu dibenarkan top-nya,” tutur Angga.

Angga pun mencontohkan, misalnya TikTok, kebetulan TikTok sponsornya Sundance. Menurutnya, TikTok harus punya policy, harus punya keinginan untuk memastikan bahwa konten-konten yang ada di TikTok itu legal. Bagaimana caranya? Angga mengatakan bahwa kalau TikTok-nya berhasil menyumbat distribusi konten-konten ilegal tersebut, maka orang tidak akan nonton bajakan dari TikTok. Tapi, jelas Angga, kalau TikTok tidak menyumbat, pasti banyak orang yang akan nonton. Angga menjelaskan, buat apa membeli kalau bisa gratis lewat TikTok. Tapikan mungkin TikTok mendapatkan keuntungan juga lewat traffic yang besar gara-gara orang bisa nonton bajakan lewat TikTok walaupun patah-patah.

“Kita gak bisa salahkan masyarakat karena mereka selalu nyari akses. Kalau aksesnya dikasih ilegal dan gak ada konsekuensi hukum apa pun, ya diambil aja. Jadi, media musti berani ngomong bahwa problemnya tuh top, jangan selalu nyalahin market. Kalau misalnya platform kayak Telegram dan TikTok bisa comply, ya mungkin bisa mengurangi potensi pembajakannya,” tutur Angga.

7. Komentar Angga soal Sundance Festival dan pengaruhnya bagi perfilman Indonesia
image
indiewire.com

Bagi Angga, Festival sekelas Sundance engage ke Indonesia begitu menarik. Hal ini menunjukkan kalau Indonesia sebenarnya jadi sebuah market atau industri yang diperhitungkan.

“Mudah-mudahan ini gak jadi yang pertama dan terakhir. Jadi nanti ketika pandemiknya sudah mulai mereda dan kita sudah mulai bisa bikin kegiatan offline. Sundance Festival Asia ini bisa jadi acara online yang tentunya vibes-nya akan sangat berbeda dengan offline,” tutur Angga.

Itu dia wawancara eksklusif IDN Times dengan Angga Dwimas Sasongko. Konten-konten seputar perfilman masih bisa kamu nikmati di kanal ini ya!

Dikutip dari IDN Times/Rafifa Nur Shabira

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *