Susanti Dewi: Produser Itu Ibu dan Film Adalah Anaknya

Susanti Dewi, produser (instagram.com/susantidewi)
ADMIN
WEDNESDAY 08.09.2021

“Sering dianggap mudah, padahal banyak tanggung jawabnya.”

Membahas industri film Indonesia rasanya kurang lengkap kalau tidak menyebut nama Susanti Dewi. Perempuan berusia 40 tahun ini merupakan salah satu sineas Indonesia yang telah aktif berkarya sejak 2012.

Diketahui, Susanti adalah produser di balik beberapa film Raditya Dika, seperti Cinta Brontosaurus dan Manusia Setengah Salmon. Saat ini ia menjadi produser di IDN Pictures.

Kali ini, IDN Times berkesempatan untuk mewawancarai Santi, sapaan akrabnya. Berikut hasil rangkuman tanya jawabnya pada Sabtu (4/9/2021).

1. Momen apa yang melatarbelakangi keinginanmu untuk jadi filmmaker?
image
Susanti Dewi, produser (instagram.com/susantidewi)

Pada suatu waktu saat 2007, saya berkesempatan menonton sebuah film yang belum dirilis karena masih dalam tahap pembuatan. Waktu itu, tiba-tiba saja saya merasa sangat tersentuh dengan cerita yang dibuat.

Pada titik itu ada rasa yang sangat besar untuk bisa membuat sebuah karya yang dapat menginsiprasi, membuat orang lain menangis, dan tertawa bersama.

2. Boleh gak sharing pengalaman tersulit ketika pertama kali terjun ke dunia film? Bagaimana kamu melaluinya?
image
Susanti Dewi, produser (instagram.com/susantidewi)

Saya rasa berhadapan dengan begitu banyak orang, seperti kru, talent, dan stakeholder lainnya. Itu adalah salah satu hal yang sulit untuk saya jalani pada saat awal meniti karier sebagai produser.

3. Sebenarnya apa saja sih yang dilakukan seorang produser film?
image
Suasana di lokasi pembuatan film Balada si Roy! (Instagram.com/susantidewi)

Menurut saya, produser adalah selaiknya ibu dalam sebuah proyek film dan film adalah anaknya. Maka dari itu, produser bertugas untuk memastikan bahwa anak yang akan dibuat ini mendapatkan gizi-gizi yang dibutuhkan. Mulai dari mencari dan menentukan partner yang akan berkolaborasi dalam merealisasikan proyek tersebut.

Produser adalah sosok yang bertanggung jawab atas dana yang dibutuhkan dalam proyek pembuatan film. Seorang produser tidak harus orang yang memiliki dana, namun produser lah yang bertanggung jawab untuk mencari dan alokasi pemakaiannya.

Selanjutnya menentukan penulis dan sutradara yang sesuai beserta para kunci kreatif lainnya. Visi produser juga yang menentukan sebuah film akan dipromokan dan didistribusikan seperti apa, sesuai target audiens yang disasar.

4. Momen apa yang melatarbelakangi keinginanmu untuk jadi filmmaker?
image
Suasana di lokasi pembuatan film Balada si Roy! (Instagram.com/susantidewi)

Sering kali dianggap sebagai pekerjaan yang mudah dan tidak berarti padahal sebenarnya banyak sekali tanggung jawab dan perannya, hehe.

5. Seberapa menantang menjadi produser perempuan di industri perfilman Indonesia?
image
Susanti Dewi saat berada di lokasi pembuatan film Balada Si Roy! (Instagram.com/susantidewi)

Tantangan sekarang menjadi seorang produser adalah kemampuan untuk beradaptasi di tengah situasi pandemik ini. Bioskop belum kembali beroperasi sempurna. Dukungan pemerintah untuk para pembuat film termasuk produser juga belum terasa nyata.

Namun, sebagai produser tetap harus mempunyai komitmen untuk terus membuat roda industri berjalan. Salah satunya dengan berproduksi dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat agar tetap bisa berkarya dan membantu semua pihak yang hidupnya bergantung pada produksi film itu sendiri.

6. Menurut kamu, film bagus yang layak diproduksi, tuh, kayak apa?
image
Susanti Dewi saat berada di lokasi pembuatan film Balada Si Roy! (Instagram.com/susantidewi)

Film yang mempunyai elemen menarik, menghibur, dan mempunyai relevansi yang kuat terhadap orang banyak.

7. Sejauh ini kamu banyak memproduksi film drama komedi romantis, apa alasannya?
image
Pembuatan film Balada Si Roy! (Instagram.com/susantidewi)

Kesempatan itu datang dalam bentuk yang beragam. Saya menganggap portfolio saya selama ini memang adalah kesempatan yang datang kepada saya pada waktunya. Tidak ada alasan yang khusus, salah satunya adalah secara genre. Drama dan romance comedy adalah dua genre yang most appeal kepada saya selama ini.

Namun di IDN Pictures ini, saya dan (Fajar) Nugros berkomitmen untuk dapat membuat karya-karya yang lintas genre. Oleh karena itu, tidak terbatas pada satu atau dua jenis saja. Ditunggu, ya, karya dari IDN Pictures ke depannya :).

8. Selain drama dan horor, bagaimana kesempatan Indonesia memproduksi genre lain yang lebih besar biaya produksinya, seperti science fiction atau lainnya dari kacamata seorang produser?
image
Susanti Dewi saat berada di lokasi pembuatan film Balada Si Roy! (Instagram.com/susantidewi)

Secara kemampuan, filmmaker Indonesia memiliki potensial yang sama dengan filmmaker lain, baik di Asia maupun di negara lainnya.

Namun memang, seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya kalau film itu adalah karya kolaborasi. Maka, butuh satu orang atau satu pihak yang percaya dengan konsep kita dan mau bersama-sama menjalankan prosesnya.

Susanti Dewi punya beberapa karya yang rencananya akan dirilis, salah satunya Balada si Roy! Jadi tunggu terus karya-karya baru sang produser di IDN Pictures ini, ya!

Dikutip dari IDN Times/Gregorius Amadeo

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *