Tertarik Buat Film Dokumenter? Kamu Mesti Tahu Pesan dari Sineas Pilihan Sundance Institute Ini!

Try Harder! (Dok. Try Harder Film)
ADMIN
MONDAY 27.09.2021

Agar film dokumentermu jadi punya value yang tinggi 

Sundance Film Festival: Asia 2021 menghadirkan perbincangan dengan sineas film dokumenter. Pembicara yang hadir dalam perbincangan ini ialah sutradara dari film-film dokumenter pilihan Sundance Institute. Diskusi ini diisi Rintu Thomas dan Sushmit Ghosh (Writing with Fire), Debbie Lum (Try Harder), dan Natalia Almada (Users).

Perbincangan tersebut pun dipandu Heidi Zwicker yang merupakan anggota programming Sundance Film Festival. Merangkum pembahasan mengenai film dokumenter, berikut pesan penting dari diskusi yang digelar secara virtual pada Sabtu (25/9/2021) siang.

1. Bisa berangkat dari kenangan yang pernah dialami
image
Cuplikan film Writing with Fire (Dok. Sundance Film Festival: Asia 2021)

Salah satu cerita menarik hadir dari Sushmi Ghosh. Sushmi pertama kali kenal dengan dokumenter secara tidak sengaja. Sekitar 16 tahun lalu, Sushmi melakukan ekspedisi berkeliling India menggunakan motor.

Perjalanan tersebut Sushmi lakukan bersama sahabatnya yang disabilitas. Ketika perjalanan mereka sudah berakhir, Sushmi kehilangan kontak dengan temannya. Hal ini membuatnya ingin membuat kenangan bagi sahabatnya.

“Saya lelah dengan pekerjaan saya. Akhirnya, saya memutuskan untuk berkeliling India. Namun, awalnya saya ingin melakukan ini sendiri. Saya disarankan untuk mengajak sahabat saya ini. Kemudian, setelah pulang saya kehilangan kabar tentangnya. Sepanjang perjalanan yang sudah direkam, saya susun jadi dokumenter untuk mengenang dia. Ternyata, karya ini diapresiasi di negara saya, di India,” ungkap Sushmi.

2. Perlu riset yang mendalam
image
Try Harder! (Dok. Try Harder Film)

Sushmi dan Rintu Thomas memerlukan riset hingga lima tahun untuk film Writing with Fire. Hal ini mereka lakukan agar bisa mendapat cerita yang lebih dalam dan mendetail. Tindakan ini juga untuk memperkaya alur film yang bertema jurnalis perempuan di India ini.

“(Membuat film dokumenter) membutuhkan kesabaran tinggi. Bagi saya, proses ini membuat saya juga semakin bisa bersabar dengan diri sendiri,” jelas Sushmi.

Sementara itu, Debbie Lum menceritakan pengalamannya membuat Try Harder!. Film ini mengantar Debbie untuk mengikuti kehidupan siswa di salah satu sekolah hingga satu setengah tahun. Perjalanan ini terjadi sama seperti yang Writing with Fire lakukan.

“Film ini awalnya mau saya bawa dengan perspektif orang tua Asia-Amerika. Namun, pada perjalanannya saya mendapati masalah yang lebih baik disampaikan berganti. Dari tiger mom menjadi tiger cub (anak-anak didikan tiger parenting),” jelas Debbie.

3. Harus berdasarkan keadaan yang terjadi di lapangan
image
Potret Natalia Almada (dok. Ambulante Documentary Festival/Delia Martinez)

Saat menjawab pertanyaan mengenai pentingnya sekolah film, Natalia menanggapi dengan pertanyaan sederhana. Dirinya tidak menutup mata kalau keberadaan sekolah memang penting, karena Natalia pun seorang pengajar di sekolah film. Namun, Natalia mengembalikan pertanyaan tersebut agar calon pekerja film tahu apa keinginannya. 

“Apa itu sekolah film untuk kita? Saya juga seorang pengajar. Namun, yang saya maksud adalah apa kamu memilih sekolah karena butuh belajar soal teknis. Atau, kamu ingin mencari hal lain. Intinya adalah ketahui apa yang kamu butuhkan dari sekolah film.”

Menambahkan jawaban Natalia, Debbie mengatakan bekerja di industri film bisa berjalan dengan mengamati. Debbie menyarankan untuk sineas muda terjun membantu proses kerja proyek film. Pesan Debbie ini agar sineas muda tidak hanya bakar uang untuk sekolah film jika masih memiliki pilihan lain.

Penting juga untuk memahami bila dokumenter berjalan dengan waktu. Pembuat film dokumenter tidak bisa memaksakan cerita yang ada. Semua itu harus berdasarkan keadaan yang terjadi di lapangan. Sushmi menjelaskan perjalanan membuat dokumenter bermula dari mengikuti cerita. Setelahnya, Sushmi mendapat banyak pembelajaran untuk materi filmnya.

4. Kejujuran akan membuat karya terasa otentik
image
Cuplikan film Users (Dok. Sundance Film Festival)

Setelah sesi obrolan bersama sineas film dokumenter, kegiatan berlangsung dengan sesi tanya jawab. Salah satu pertanyaan yang hadir berkenaan dengan indikator bagus tidaknya karya. Menanggpi hal tersebut, Kim Yutani, Kepala Programming Sundance Film Festival Asia 2021, menjawab perlu adanya otentisitas atau keaslian.

“Cerita tersebut harus hadir dengan jujur. Kejujuran akan membuat karya ini terasa otentik dan dari situ karya tersebut dapat terasa bagus. Terlebih, ketika cerita itu memang dekat atau bagian dari dirimu. Jadi, hanya dirimu yang bisa menceritakan kisah ini dengan baik,” jawab Kim.

Selain itu, salah satu penanya dari Afrika Selatan, Nomawonga, bertanya mengenai cara mendapatkan pendanaan untuk film dokumenter. Kim membalas dengan pokok keaslian tadi.

“Bagaimana proses presentasi kepada calon pendana tersebut bisa baik. Terlebih, kalau kamu bisa menjelaskan dengan otentik yang bisa memikat investor,” tegas Kim.

5. Film dokumenter yang baik bisa memberikan detail-detail yang menambah kekayaan pesan otentisitas
image
Potret Rintu Thomas dan Sushmit Ghosh, sutradara Writing with Fire (Dok. Sundance Collab)

Kita sering melihat beberapa film dokumenter hadir dengan menampilkan visual yang kontroversial dan sensitif bagi banyak orang. Memang mengundang rasa tidak nyaman, tetapi hal itu menjadi bagian dari pesan yang mau disampaikan pembuatnya. Bagi Heidi Zwicker, film dokumenter yang baik bisa memberikan detail-detail yang menambah kekayaan pesan otentisitas.

Heidi Zwiker, sebagai tim programming Sundance Film Festival menyukai film dokumenter yang bisa membuatnya memahami konteks baru. Konteks baru ini perlu disampaikan dengan cara yang memikat agar bisa membuat kesan kedekatan padahal sebenarnya pengalaman itu jauh dari kehidupan penonton.

Berikut pesan penting yang bisa diambil untuk menambah bekal kamu membuat film dokumenter. Apakah kamu siap membuat karya dokumenter?

Dikutip dari IDN Times/Gregorius Amadeo

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *